Apakah Terampil Dalam Berteologi Akan Menjadikan Diri Sebagai "Farisi"?

Judul di atas merupakan sebuah ungkapan peringatan (warning) yang sangat bagus sekali, di mana hal tersebut dapat mengingatkan setiap para pelayan Tuhan, kaum akademisi ataupun lainnya untuk tidak hanya mengisi kepala dengan berbagai pengetahuan religius semata tanpa praktik yang menghasilkan buah.

Namun, di balik konten warning yg sangat baik tadi, tak jarang judul di atas menjadi sebuah kalimat yg cenderung berkonotasi negatif (sy membayangkan kalo ada anak rohani sy yg sedang bergumul secara dalam ingin masuk STT, ada indikasi kalimat ini akan terngiang2 di kepalanya atau bahkan dpt melemahkan pertimbangannya).

Mari kita dalami..!!

Secara etimologi, Teologi terbagi dari 2 kata yakni, Theos (Yunani): Allah & Logos (Yunani): Kata/ Berbicara. Maka, Berteologi berarti berbicara tentang Allah dan segenap ciptaanNya (saat bahas tentang kebaikan Babe ya kita sedang berteologi, saat ngobrol tentang manusia dan dosa ya kita sedang berteologi, saat diskusi tentang akhir zaman ya kita juga sedang berteologi dll).

Kalau begitu, betapa dekatnya teologi dengan kehidupan sehari-hari. Teologi bukan hanya milik Civitas Akademika (STT dll), namun kita semua pun berteologi dalam keseharian perjalanan hidup dengan Allah (melalui pergumulan, berkat-Nya, ataupun penderitaan yg kita lalui).

Hans Frei dalam karyanya berjudul "5 Types Of Theology" membuat sebuah tipologi tentang hubungan Teologi dan Filsafat/dunia, isinya sebagai berikut:

Note: nomor 1 adalah ekstrim kiri dan nomor 5 adalah ekstrim kanan.

1. Teologi menelan filsafat/dunia: Orang yg ada di sini adalah org yg sangat kaku sekali. Bagi orang ini, teologi adalah segala2nya, gak perlu ilmu2 lain (fundamentalis yg klasik).. yg penting Alkitab saja, gak perlulah itu psikologi, sosiologi dll.

2. Teologi menggunakan filsafat/dunia: Ilmu-ilmu lain penting dan perlu, tapi jangan lupa bahwa Alkitab tetap harus jd sumber otoritas utama. Penekanan akan wahyu Allah sangat kuat di sini. Ilmu-ilmu lain dapat dipakai sebagai penunjang kita dalam berteologi (salah satu tokohnya: Karl Barth).

3. Teologi dan Filsafat/ dunia saling berdialog: Kalo dunia bertanya, maka Alkitab harus kasih jawaban. Contohnya: pacaran yg bener kayak apa sih? Mari tanya Alkitab, main saham boleh gak sih? Mari tanya Alkitab. Nomor 3 ini bagus, tapi kelemahannya adalah Alkitab hanya jadi pemberi jawab saja (sebatas praktika) bagi dunia. Maka, efeknya seringkali dalam ibadah kaum muda, isi tema khotbah sepanjang taun ya hanya bersifat upraktika saja (pacaran, keuangan, cara hidup sehat dll), padahal DOGMATIKA juga sangat penting untuk diajarkan lho (Keselamatan, Allah Tritunggal, manusia dan dosa dll).

4. Filsafat/ dunia menggunakan Teologi: Biasanya org yg di area ini sering menggunakan ayat Alkitab untuk mendukung kebenarannya sendiri. Contoh: boleh dong minum wine, kan Yesus juga minum anggur (dan akhirnya org ini pergi mabok2an). Boleh dong ngerokok, kan Paulus bilang semua diperbolehkan dengan catatan membangun, ngerokok ngilangin stress lho kan itu membangun. 

5. Filsafat/ dunia menelan Teologi: Orang yg ada di sini biasanya berpikir bahwa Alkitab boleh direvisi kalo gak relevan sama dunia. Contoh: gender manusia itu bukan cuma 2 ternyata lho, tp ada 63, maka gender itu sebenarnya hanyalah masalah konstruksi sosial, kalau begitu sah sah saja jika seorang pria menikah dengan seorang pria.

So, ada dimanakah kita?

Teologi bukan hanya dekat dengan kita, tp teologi itu sangat baik jika digunakan dengan tepat dan dapat menjadi dampak dalam seluruh aspek hidup bahkan.

Bagi sy pribadi, melalui teologi, sy dapat lebih jelas mengarahkan seluruh aspek hidup sy kepada Allah Tritunggal, melakukan seperti apa yg Ia kehendaki. Bagi saya: Theology est scientia vivendo deo (Teologi adalah ilmu bagaimana hidup di hadirat Allah).

God Bless

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leap Of Faith (Lompatan Iman)