Leap Of Faith (Lompatan Iman)

Standar kekristenan yang diberikan oleh Yesus mengenai penyangkalan diri dan memikul salib rasanya bukan sesuatu yang digemari oleh kebanyakan orang Kristen yang ada di era Postmodern sekarang ini. Pada masa sekarang, rasanya lebih populer jika pengajaran Kristen selalu berkaitan tentang berkat saja, kesembuhan saja, mujizat saja dan lain sebagainya yang hanya berkaitan dengan keuntungan pribadi. 
Kekristenan sejati dengan harga yang begitu mahal (sangkal diri & pikul salib) tanpa disadari direduksi (dikecilkan secara makna & fungsi) menjadi sebuah kekristenan yang hanya mementingkan kenyamanan belaka.
Maka, efek yang terjadi adalah kekristenan menjadi sesuatu yang sangat bernuansa formalitas dan religiusitas semata. Dalam hal ini, Soren Kierkegaard (Teolog Denmark) menyebutnya sebagai "Safe Christendom", di mana pada realitanya, Safe Christendom cepat atau lambat dapat menghasilkan The Nominal Christian atau yang sering disebut sebagai "Kristen KTP".

Kierkegaard beranggapan bahwa seharusnya kekristenan sejati bersifat Dangerous Christianity (sangkal diri & pikul salib), oleh karena itu, kegelisahannya tersebut menghasilkan sebuah karya tulis yang berjudul "Either/Or".
Di dalam tulisannya tersebut, ia memaparkan bahwa hidup adalah pilihan-pilihan, di mana setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memilih atau mengambil keputusan di dalam hidup ini dan bukan menjadi seorang penonton rohani (segala sesuatu hanya apa kata pendeta, tanpa pernah mengalami perjalanan iman secara pribadi dengan Tuhan) seperti yang dilakukan oleh seorang "Kristen KTP". Salah satu penekanannya yang terbesar adalah setiap orang harus berpindah kepada tingkatan iman/kerohanian yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Menurut Kierkegaard, terdapat tiga tingkatan iman, yakni Aesthetic, Ethical, Religious. Baginya, manusia itu harus bergerak ke setiap tahapan (harus either/or engga boleh both/end), di mana penting sekali setiap manusia untuk bukan hanya memilih, namun juga berani untuk memiliki lompatan iman Leap Of Faith di dalam hidupnya.

Mari kita uraikan...

1. Aesthetic: Ini adalah level tingkatan indrawi atau level anak-anak. Orang yang ada di tingkatan ini biasanya melakukan segala sesuatu hanya karena dia suka/tidak suka (Persis toh seperti anak-anak yang nangis karena sangat menginginkan mainan temannya, dan ia gak peduli itu benar atau salah, yang penting dapat mainannya). Mirip yah sama orang yang dateng ke gereja suka-suka jidatnya (yah kalo gak ngantuk nanti dateng gereja deh/ yah nanti kalo saya sempat baru deh ambil pelayanan tapi itu juga engga mau yang repot-repot ah...). Biasanya orang yang ada di sini belum punya patokan salah dan benar, semuanya kebolak-balik & kebalik-bolak.

2. Ethical: Orang yang ada di sini sudah mulai menyadari adanya standar benar dan salah, termasuk konsekuensi dari apa yang ia lakukan. Namun ironisnya, seringkali karena terlalu mementingkan standar benar/salah beserta akibatnya, orang tersebut hanya melaksanakan segala sesuatu hanya karena adanya tuntutan. Baginya, hidup adalah tuntutan, tuntutan, dan tuntutan, di mana ia lupa bahwa di dalam hidup ini terdapat GRACE atau anugerah Allah yang besar.

3. Religious: Ini merupakan sebuah dimensi iman yang sulit dijelaskan (contohnya seperti Abraham mempersembahkan Ishak, koq bisa yah?).
Orang di level ini akan memahami demand (tuntutan) di dalam kerangka grace (anugerah), dan sebaliknya juga memahami grace di dalam kerangka demand (Graceful Demand & Demanding Grace).
Contohnya: Tuhan kan kasih kita grace, tapi setelah grace kan ada demand untuk menaatinya seperti halnya untuk memiliki hidup kudus dan lain sebagainya. Orang di level ini akan mengerjakan demand dengan joyful (sukacita) karena ia tahu bahwa ada anugerah Allah yang hadir untuknya.
Mirip seperti cowo yang lagi naksir cewe dan mau anterin cewe itu pulang (sekalipun rumahnya itu jauh banget), tapi si cowo akan tetep kerjain hal tersebut dengan sukacita.


Bukankah iman kita harusnya seperti yang nomor 3 kepada Allah sang pemberi hidup?

Kierkegaard membuat kita berpikir ulang dan merenung, di manakah posisi iman kita saat ini?
Beranikah kita memiliki lompatan iman dari level kerohanian kita yang sebelumnya?


God Bless you... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah Terampil Dalam Berteologi Akan Menjadikan Diri Sebagai "Farisi"?