Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Apakah Terampil Dalam Berteologi Akan Menjadikan Diri Sebagai "Farisi"?

Judul di atas merupakan sebuah ungkapan peringatan (warning) yang sangat bagus sekali, di mana hal tersebut dapat mengingatkan setiap para pelayan Tuhan, kaum akademisi ataupun lainnya untuk tidak hanya mengisi kepala dengan berbagai pengetahuan religius semata tanpa praktik yang menghasilkan buah. Namun, di balik konten warning yg sangat baik tadi, tak jarang judul di atas menjadi sebuah kalimat yg cenderung berkonotasi negatif (sy membayangkan kalo ada anak rohani sy yg sedang bergumul secara dalam ingin masuk STT, ada indikasi kalimat ini akan terngiang2 di kepalanya atau bahkan dpt melemahkan pertimbangannya). Mari kita dalami..!! Secara etimologi, Teologi terbagi dari 2 kata yakni, Theos (Yunani): Allah & Logos (Yunani): Kata/ Berbicara. Maka, Berteologi berarti berbicara tentang Allah dan segenap ciptaanNya (saat bahas tentang kebaikan Babe ya kita sedang berteologi, saat ngobrol tentang manusia dan dosa ya kita sedang berteologi, saat diskusi tentang akhir zaman ya kit...

I Don't Care..!!

Salah satu fenomena yang ada di dalam dunia yang semakin maju ini yaitu, manusia tidak lagi membutuhkan sosok Tuhan sebagai referensi hidup. Tuhan hanyalah dianggap sebagai bagian dari percakapan orang zaman dahulu kala (sesuatu yang udah gak relevan lagi di jaman sekarang), tak heran hal tersebut sering dinamai dengan sekularisme. Dietrich Bonhoeffer di dalam teorinya  World Come To Age menekankan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus diratapi, melainkan ini adalah kesempatan untuk gereja dapat berteologi di dalam konteks tersebut. Bonhoeffer memandang sekularisme sebagai kesempatan untuk gereja dapat berkontribusi dan bersuara (dalam hal ini, gereja merupakan segenap orang Kristen yang mengaku murid Kristus). Namun nampaknya, kebanyakan orang Kristen bukan berupaya untuk memberi kontribusi dan pengaruh di dalam dunia yang semakin sekuler ini, melainkan malah menunjukkan sikap yang sebaliknya. Rasanya sedikit sekali gereja atau orang Kristen yang peduli terhadap keada...

Leap Of Faith (Lompatan Iman)

Standar kekristenan yang diberikan oleh Yesus mengenai penyangkalan diri dan memikul salib rasanya bukan sesuatu yang digemari oleh kebanyakan orang Kristen yang ada di era Postmodern sekarang ini. Pada masa sekarang, rasanya lebih populer jika pengajaran Kristen selalu berkaitan tentang berkat saja, kesembuhan saja, mujizat saja dan lain sebagainya yang hanya berkaitan dengan keuntungan pribadi.  Kekristenan sejati dengan harga yang begitu mahal (sangkal diri & pikul salib) tanpa disadari direduksi (dikecilkan secara makna & fungsi) menjadi sebuah kekristenan yang hanya mementingkan kenyamanan belaka. Maka, efek yang terjadi adalah kekristenan menjadi sesuatu yang sangat bernuansa formalitas dan religiusitas semata. Dalam hal ini, Soren Kierkegaard (Teolog Denmark) menyebutnya sebagai " Safe Christendom ", di mana pada realitanya, Safe Christendom cepat atau lambat dapat menghasilkan The Nominal Christian atau yang sering disebut sebagai "Kristen KTP". ...